Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Saturday, December 25, 2010

Asal-usul Nama Indonesia

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur")), yang dikelola olehJames Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris):

"... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia"".

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. [1]

Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):

"Mr Earl menyarankan istilah etnografi "Indunesian", tetapi menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah geografis murni "Indonesia", yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia"

Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. [1]

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalamEncyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan namaIndonesische Persbureau.

Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang Indonesia").

Mobil-Mobil Tercanggih dan Termahal Dunia

Inilah Mobil-Mobil Tercanggih dan Termahal Dunia!

1. Pagani Zonda C12F


Pagani Zonda C12F, mobil ke-5 termahal di dunia
Ini adalah wallpaper keren dari mobil-mobil super terkeren di dunia.
Tapi bukan hanya itu. Ini adalah mobil-mobil super, dengan teknologi mesin tercanggih di dunia, material masa depan yang lebih kuat dari baja dan super ringan, dan dengan desain yang paling spektakuler.
Material canggih yang digunakan di hampir semua mobil super ini adalah material bernama Carbon Fiber, yang juga digunakan di pesawat ruang angkasa. Selamat menikmati.

2. Koenigsegg CCGT.
Ini adalah supercar dari Angelholm Swedia. Versi CCXR-nya adalah mobil sport "ramah lingkungan" yang pertama, "Green Car" dengan memakai biofuel dari ethanol. Versi CCXR ini juga dipilih Forbes sebagai salahsatu mobil terindah dalam sejarah.



3. Bugatti Veyron, Mobil Termahal di Dunia.
Harganya US$ 1.700.000. Materialnya terdiri dari Carbon Fiber, Titanium, dan Alumunium. Carbon Fiber adalah bahan khusus yang ringan tapi sangat kuat. Kecepatan max-nya bisa mencapai 400 km/jam! (Tapi ada satu mobil lagi yang lebih cepat). Mobil ini bisa melesat dari 0 ke 100 km/jam, hanya dalam waktu 2,5 detik, akselerasi mesin tercepat di dunia. Mesinnya yang dahsyat menggunakan Turbocharged W16 engine.




4. Lamborghini Reventon

Didesain berdasarkan model pesawat tempur, bahkan mempunyai G-Force Meter. Ini adalah mobil termahal kedua setelah Veyron, seharga US$ 1.600.000. Dibuat sangat terbatas dan telah habis terjual bahkan sebelum diproduksi. Ini adalah Lamborghini terkuat dan termahal yang pernah dibuat. Hanya akan diproduksi sebanyak 20 buah.




5. Ferrari Enzo.
Mobil super seharga US$ 1.000.000 (lelang). Menggunakan teknologi Formula 1, badan dari Carbon Fiber, bahkan memakai teknologi yang tidak diijinkan dipakai dalam Formula 1, seperti Active Aerodynamics dan Traction Control.




6. Lamborghini Gallardo (modifikasi Hamann, Jerman)




7. Maserati Birdcage




8. Lamborghini-C S1.



9. 2009 Alfa Romeo
Salahsatu konsultan otomotif Forbes Rob Myers menyebutnya sebagai "salahsatu benda terindah yang ada di dunia"



10. Frazer-Nash "Namir" Hybrid.

Mobil sport super hibrid tercepat di dunia, mesinnya bisa menggunakan sekaligus bensin dan listrik sehingga sangat irit. Namir berasal dari bahasa Arab berarti "Harimau".



11. SSC Ultimate Aero TT, Mobil Tercepat di Dunia.

Inilah mobil tercepat yang mengalahkan Bugatti Veyron, 413 Km/Jam. Mesinnya menggunakan Twin-Turbo V8 dan secara teoritis mampu mencapai kecepatan 439 km/jam. Kecepatannya diuji coba di tempat uji coba khusus NASA di Virginia. Buatan Amerika. SCC (pembuatnya) mengumumkan bahwa model baru Aero EV yang bertenaga listrik akan segera diproduksi.Super cepat, dan ramah lingkungan.



12. Lotec Sirius.
Mobil yang nyaris berbentuk seperti pesawat ruang angkasa ini terbuat dari Carbon Fiber dan Kevlar. Mampu mencapai kecepatan 400 km/Jam.

Thursday, December 23, 2010

Budaya Indonesia

Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Kebudayaan Nasional

Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni:

Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bai Masyarakat Pendukukungnya, Semarang: P&K, 199

kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama.Nunus Supriadi, “Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional”

Pernyataan yang tertera pada GBHN tersebut merupakan penjabaran dari UUD 1945 Pasal 32. Dewasa ini tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia sedang mempersoalkan eksistensi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional terkait dihapuskannya tiga kalimat penjelasan pada pasal 32 dan munculnya ayat yang baru. Mereka mempersoalkan adanya kemungkinan perpecahan oleh kebudayaan daerah jika batasan mengenai kebudayaan nasional tidak dijelaskan secara gamblang.

Sebelum di amandemen, UUD 1945 menggunakan dua istilah untuk mengidentifikasi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan bangsa, ialah kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagi puncak-puncak di daerah-daerah di seluruh Indonesia, sedangkan kebudayaan nasional sendiri dipahami sebagai kebudayaan angsa yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia yang sudah sadar dan menglami persebaran secara nasional. Di dalamnya terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional.


Wujud kebudayaan daerah di Indonesia

Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda.

Rumah adat

Rumah gadang, rumah adat sumatera barat
  • Aceh: Rumoh Aceh
  • Sumatera Barat: Rumah Gadang
  • Sumatera Selatan: Rumah Limas
  • Jawa: Joglo
  • Papua: Honai
  • Sulawesi Selatan: Tongkonan (Tana Toraja), Bola Soba (Bugis Bone), Balla Lompoa (Makassar Gowa)
  • Sulawesi Tenggara: Istana buton
  • Sulawesi Utara: Rumah Panggung
  • Kalimantan Barat: Rumah Betang
  • Nusa Tenggara Timur: Lopo
  • Maluku: Balieu (dari bahasa Portugis)

Tarian Daerah

Tarian Pakarena di pulau Selayar pada masa Hindia Belanda
  • Aceh: Saman, Seudati
  • Sumatera Utara: Tortor (batak Toba & Simalungun), Tari Sapu Tangan , Tari Adok , Tari Anak , Tari Pahlawan , Tari Lagu Duo , Tari Perak ,Tari Payung (Pesisir Sibolga/Tapteng)
  • Riau: Persembahan, Zapin, Rentak Bulian, Serampang Dua Belas
  • Kepulauan Riau: Madah Gurindam
  • Sumatera Barat: Tari Piring, Tari Payung, Tari Indang, Tari Randai, Tari Lilin
  • Jambi: Sekapur Sirih, Selampit Delapan
  • Bengkulu: Andun, Bidadei Teminang
  • Sumatera Selatan: Bekhusek, Tanggai
  • Lampung: Bedana, Sembah, Tayuhan, Sigegh, Labu Kayu
  • Jawa: Bedaya, Kuda Lumping, Reog
  • Bali: Kecak, Barong/ Barongan, Pendet
  • Maluku: Cakalele, Orlapei, Katreji
  • Betawi: Yapong
  • Sunda: Jaipong, Tari Topeng
Tari jaipong, Tarian daerah Jawa Barat
  • Timor NTT: Likurai, Bidu, Tebe, Bonet, Pado'a, Rokatenda, Caci
  • Sulawesi Selatan: Tari Pakkarena, Tarian Anging Mamiri, Tari Padduppa, Tari 4 Etnis
  • Sulawesi Tengah: Dero
  • Gorontalo : Tari Saronde , Tari Elengge ,Tari Dana-Dana ,Tari Polopalo ,Tari Pore-Pore
  • Irian Jaya: Musyoh, Selamat Datang, Yosim Pancar
  • Nias: Famaena

Lagu Daerah

  • Jakarta: Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang Kangkung, Keroncong Kemayoran, Surilang, Terang Bulan
  • Maluku: Rasa Sayang-sayange, Ayo Mama, Buka Pintu, Burung Tantina, Goro-Gorone, Huhatee, Kole-Kole, Mande-Mande, Ole Sioh, O Ulate, Sarinande,Tanase
  • Melayu: Tanjung Katung
  • Aceh: Bungong Jeumpa, Lembah Alas, Piso Surit
  • Kalimantan Selatan: Ampar-Ampar Pisang, Paris Barantai, Saputangan Bapuncu Ampat
  • Nusa Tenggara Timur: Anak Kambing Saya, Oras Loro Malirin, Sonbilo, Tebe Onana, Ofalangga, Do Hawu, Bolelebo, Lewo Ro Piring Sina, Bengu Re Le Kaju, Aku Retang, Gaila Ruma Radha,Desaku, Flobamora, Potong Bebek Angsa
  • Sulawesi Selatan: Angin Mamiri, Pakarena, Sulawesi Parasanganta, Ma Rencong
  • Sumatera Utara: Anju Ahu, Bungo Bangso, Cikala Le Pongpong, Bungo Bangso, Butet, Dago Inang Sarge, Lisoi, Madekdek Magambiri, Mariam Tomong, Nasonang Dohita Nadua, Rambadia,Sengko-Sengko, Siboga Tacinto, Sinanggar Tulo, Sing Sing So, Tapian Nauli
  • Papua/Irian Barat: Apuse, Yamko Rambe Yamko
  • Sumatera Barat: Ayam Den Lapeh, Barek Solok, Dayung Palinggam, Kambanglah Bungo, Kampuang Nan Jauh Di Mato, Ka Parak Tingga, Malam Baiko, Kampuang nan Jauh di Mato, Kambanglah Bungo, Indang Sungai Garinggiang, Rang Talu
  • Jambi: Batanghari, Soleram
  • Jawa Barat: Bubuy Bulan, Cing Cangkeling, Es Lilin, Karatagan Pahlawan, Manuk Dadali, Panon Hideung, Peuyeum Bandung, Pileuleuyan, Tokecang
  • Kalimantan Barat: Cik-Cik Periuk, Cak Uncang, Batu Ballah, Alok Galing, Tandak Sambas, Sungai Sambas Kebanjiran, Alon-Alon
  • Sumatera Selatan: Cuk Mak Ilang, Dek Sangke, Gending Sriwijaya, Kabile-bile, Tari Tanggai
  • Banten: Dayung Sampan
  • Sulawesi Utara: Esa Mokan, O Ina Ni Keke, Si Patokaan, Sitara Tillo
  • Jawa Tengah: Gambang Suling, Gek Kepriye, Gundul Pacul, Ilir-ilir, Jamuran, Bapak Pucung, Yen Ing Tawang Ono Lintang, Stasiun Balapan
  • Nusa Tenggara Barat: Helele U Ala De Teang, Moree, Orlen-Orlen, Pai Mura Rame, Tebe Onana, Tutu Koda
  • Kalimantan Timur: Indung-Indung
  • Jambi: Injit-Injit Semut, Pinang Muda, Selendang Mayang
  • Kalimantan Tengah: Kalayar
  • Jawa Timur: Keraban Sape, Tanduk Majeng
  • Bengkulu: Lalan Belek
  • Bali: Mejangeran, Ratu Anom
  • Sulawesi Tenggara: Peia Tawa-Tawa
  • Yogyakarta: Pitik Tukung, Sinom, Suwe Ora Jamu, Te Kate Dipanah
  • Sulawesi Tengah: Tondok Kadadingku, Tope Gugu
  • Sulawesi Barat: Bulu Londong, Malluya, Io-Io, Ma'pararuk
  • Gorontalo: Hulondalo li Pu'u , Bulalo Lo Limutu , Wanu Mamo Leleyangi

Musik

  • Jakarta: Keroncong Tugu.
  • Melayu: Hadrah, Makyong, Ronggeng
  • Makassar: Gandrang Bulo, Sinrilik
  • Pesisir Sibolga/Tapteng: Sikambang
  • Jawa Barat: karawitan
  • Serang Banten [pencak silat]

Alat musik Daerah

Gamelan
  • Jawa: Gamelan, Kendang Jawa.
  • Nusa Tenggara Timur: Sasando, Gong dan Tambur, Juk Dawan, Gitar Lio.
  • Gendang Bali
  • Gendang Simalungun
  • Gendang Melayu
  • Gandang Tabuik
  • Sasando
  • Talempong
  • Tifa
  • Saluang
  • Rebana
  • Bende
  • Kenong
  • Keroncong
  • Serunai
  • Jidor
  • Suling Lembang
  • Suling Sunda
  • Dermenan
  • Saron
  • Kecapi
  • Bonang
  • Angklung
  • Calung
  • Kulintang
  • Gong Kemada
  • Gong Lambus
  • Rebab
  • Tanggetong
  • Gondang Batak
  • Kecapi
  • Kesok-Kesok
  • Saluang

Gambar

  • Jawa: Wayang.
  • Tortor: Batak

Patung

  • Jawa: Patung Buto, patung Budha.
  • Bali: Garuda.
  • Irian Jaya: Asmat.

Pakaian

  • Jawa: Batik.
  • Sumatra Utara: Ulos, Suri-suri, Gotong.
  • Sumatra Utara, Sibolga: Anak Daro & Marapule.
  • Sumatra Barat/ Melayu:
  • Sumatra Selatan Songket
  • Lampung: Tapis
  • Sasiringan
  • Tenun Ikat Nusa Tenggara Timur
  • Bugis - MakassarBaju Bodo dan Jas Tutup, Baju La'bu
  • Papua Timur : Manawou
  • Papua Barat : Ewer
  • NTT:

Suara

  • Jawa: Sinden.
  • Sumatra: Tukang cerita.
  • Talibun: (Sibolga, Sumatera Utara)
  • Gorontalo: (Dikili)

Sastra/tulisan

  • Jawa: Babad Tanah Jawa, karya-karya Ronggowarsito.
  • Bali: karya tulis di atas Lontar.
  • Sumatra bagian timur (Melayu): Hang Tuah
  • Sulawesi Selatan Naskah Tua Lontara
  • Timor Ai Babelen, Ai Kanoik

Makanan

  • Timor: Jagung Bose, Daging Se'i, Ubi Tumis.
  • Sumatera bagian Barat: Sate Padang
  • Sumatera bagian Selatan: Pempek Palembang
  • Jakarta: Soto Betawi
  • Jogjakarta: Gudeg
  • Jawa Timur: Rawon
  • Gorontalo: Binde Biluhuta
  • Sulawesi Utara: Bubur Manado(Tinutuan)
  • Sulawesi Selatan: Coto Makassar, Pallubasa, Es pisang hijau