Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Thursday, December 23, 2010

Budaya Indonesia

Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Kebudayaan Nasional

Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni:

Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bai Masyarakat Pendukukungnya, Semarang: P&K, 199

kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama.Nunus Supriadi, “Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional”

Pernyataan yang tertera pada GBHN tersebut merupakan penjabaran dari UUD 1945 Pasal 32. Dewasa ini tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia sedang mempersoalkan eksistensi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional terkait dihapuskannya tiga kalimat penjelasan pada pasal 32 dan munculnya ayat yang baru. Mereka mempersoalkan adanya kemungkinan perpecahan oleh kebudayaan daerah jika batasan mengenai kebudayaan nasional tidak dijelaskan secara gamblang.

Sebelum di amandemen, UUD 1945 menggunakan dua istilah untuk mengidentifikasi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan bangsa, ialah kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagi puncak-puncak di daerah-daerah di seluruh Indonesia, sedangkan kebudayaan nasional sendiri dipahami sebagai kebudayaan angsa yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia yang sudah sadar dan menglami persebaran secara nasional. Di dalamnya terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional.


Wujud kebudayaan daerah di Indonesia

Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda.

Rumah adat

Rumah gadang, rumah adat sumatera barat
  • Aceh: Rumoh Aceh
  • Sumatera Barat: Rumah Gadang
  • Sumatera Selatan: Rumah Limas
  • Jawa: Joglo
  • Papua: Honai
  • Sulawesi Selatan: Tongkonan (Tana Toraja), Bola Soba (Bugis Bone), Balla Lompoa (Makassar Gowa)
  • Sulawesi Tenggara: Istana buton
  • Sulawesi Utara: Rumah Panggung
  • Kalimantan Barat: Rumah Betang
  • Nusa Tenggara Timur: Lopo
  • Maluku: Balieu (dari bahasa Portugis)

Tarian Daerah

Tarian Pakarena di pulau Selayar pada masa Hindia Belanda
  • Aceh: Saman, Seudati
  • Sumatera Utara: Tortor (batak Toba & Simalungun), Tari Sapu Tangan , Tari Adok , Tari Anak , Tari Pahlawan , Tari Lagu Duo , Tari Perak ,Tari Payung (Pesisir Sibolga/Tapteng)
  • Riau: Persembahan, Zapin, Rentak Bulian, Serampang Dua Belas
  • Kepulauan Riau: Madah Gurindam
  • Sumatera Barat: Tari Piring, Tari Payung, Tari Indang, Tari Randai, Tari Lilin
  • Jambi: Sekapur Sirih, Selampit Delapan
  • Bengkulu: Andun, Bidadei Teminang
  • Sumatera Selatan: Bekhusek, Tanggai
  • Lampung: Bedana, Sembah, Tayuhan, Sigegh, Labu Kayu
  • Jawa: Bedaya, Kuda Lumping, Reog
  • Bali: Kecak, Barong/ Barongan, Pendet
  • Maluku: Cakalele, Orlapei, Katreji
  • Betawi: Yapong
  • Sunda: Jaipong, Tari Topeng
Tari jaipong, Tarian daerah Jawa Barat
  • Timor NTT: Likurai, Bidu, Tebe, Bonet, Pado'a, Rokatenda, Caci
  • Sulawesi Selatan: Tari Pakkarena, Tarian Anging Mamiri, Tari Padduppa, Tari 4 Etnis
  • Sulawesi Tengah: Dero
  • Gorontalo : Tari Saronde , Tari Elengge ,Tari Dana-Dana ,Tari Polopalo ,Tari Pore-Pore
  • Irian Jaya: Musyoh, Selamat Datang, Yosim Pancar
  • Nias: Famaena

Lagu Daerah

  • Jakarta: Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang Kangkung, Keroncong Kemayoran, Surilang, Terang Bulan
  • Maluku: Rasa Sayang-sayange, Ayo Mama, Buka Pintu, Burung Tantina, Goro-Gorone, Huhatee, Kole-Kole, Mande-Mande, Ole Sioh, O Ulate, Sarinande,Tanase
  • Melayu: Tanjung Katung
  • Aceh: Bungong Jeumpa, Lembah Alas, Piso Surit
  • Kalimantan Selatan: Ampar-Ampar Pisang, Paris Barantai, Saputangan Bapuncu Ampat
  • Nusa Tenggara Timur: Anak Kambing Saya, Oras Loro Malirin, Sonbilo, Tebe Onana, Ofalangga, Do Hawu, Bolelebo, Lewo Ro Piring Sina, Bengu Re Le Kaju, Aku Retang, Gaila Ruma Radha,Desaku, Flobamora, Potong Bebek Angsa
  • Sulawesi Selatan: Angin Mamiri, Pakarena, Sulawesi Parasanganta, Ma Rencong
  • Sumatera Utara: Anju Ahu, Bungo Bangso, Cikala Le Pongpong, Bungo Bangso, Butet, Dago Inang Sarge, Lisoi, Madekdek Magambiri, Mariam Tomong, Nasonang Dohita Nadua, Rambadia,Sengko-Sengko, Siboga Tacinto, Sinanggar Tulo, Sing Sing So, Tapian Nauli
  • Papua/Irian Barat: Apuse, Yamko Rambe Yamko
  • Sumatera Barat: Ayam Den Lapeh, Barek Solok, Dayung Palinggam, Kambanglah Bungo, Kampuang Nan Jauh Di Mato, Ka Parak Tingga, Malam Baiko, Kampuang nan Jauh di Mato, Kambanglah Bungo, Indang Sungai Garinggiang, Rang Talu
  • Jambi: Batanghari, Soleram
  • Jawa Barat: Bubuy Bulan, Cing Cangkeling, Es Lilin, Karatagan Pahlawan, Manuk Dadali, Panon Hideung, Peuyeum Bandung, Pileuleuyan, Tokecang
  • Kalimantan Barat: Cik-Cik Periuk, Cak Uncang, Batu Ballah, Alok Galing, Tandak Sambas, Sungai Sambas Kebanjiran, Alon-Alon
  • Sumatera Selatan: Cuk Mak Ilang, Dek Sangke, Gending Sriwijaya, Kabile-bile, Tari Tanggai
  • Banten: Dayung Sampan
  • Sulawesi Utara: Esa Mokan, O Ina Ni Keke, Si Patokaan, Sitara Tillo
  • Jawa Tengah: Gambang Suling, Gek Kepriye, Gundul Pacul, Ilir-ilir, Jamuran, Bapak Pucung, Yen Ing Tawang Ono Lintang, Stasiun Balapan
  • Nusa Tenggara Barat: Helele U Ala De Teang, Moree, Orlen-Orlen, Pai Mura Rame, Tebe Onana, Tutu Koda
  • Kalimantan Timur: Indung-Indung
  • Jambi: Injit-Injit Semut, Pinang Muda, Selendang Mayang
  • Kalimantan Tengah: Kalayar
  • Jawa Timur: Keraban Sape, Tanduk Majeng
  • Bengkulu: Lalan Belek
  • Bali: Mejangeran, Ratu Anom
  • Sulawesi Tenggara: Peia Tawa-Tawa
  • Yogyakarta: Pitik Tukung, Sinom, Suwe Ora Jamu, Te Kate Dipanah
  • Sulawesi Tengah: Tondok Kadadingku, Tope Gugu
  • Sulawesi Barat: Bulu Londong, Malluya, Io-Io, Ma'pararuk
  • Gorontalo: Hulondalo li Pu'u , Bulalo Lo Limutu , Wanu Mamo Leleyangi

Musik

  • Jakarta: Keroncong Tugu.
  • Melayu: Hadrah, Makyong, Ronggeng
  • Makassar: Gandrang Bulo, Sinrilik
  • Pesisir Sibolga/Tapteng: Sikambang
  • Jawa Barat: karawitan
  • Serang Banten [pencak silat]

Alat musik Daerah

Gamelan
  • Jawa: Gamelan, Kendang Jawa.
  • Nusa Tenggara Timur: Sasando, Gong dan Tambur, Juk Dawan, Gitar Lio.
  • Gendang Bali
  • Gendang Simalungun
  • Gendang Melayu
  • Gandang Tabuik
  • Sasando
  • Talempong
  • Tifa
  • Saluang
  • Rebana
  • Bende
  • Kenong
  • Keroncong
  • Serunai
  • Jidor
  • Suling Lembang
  • Suling Sunda
  • Dermenan
  • Saron
  • Kecapi
  • Bonang
  • Angklung
  • Calung
  • Kulintang
  • Gong Kemada
  • Gong Lambus
  • Rebab
  • Tanggetong
  • Gondang Batak
  • Kecapi
  • Kesok-Kesok
  • Saluang

Gambar

  • Jawa: Wayang.
  • Tortor: Batak

Patung

  • Jawa: Patung Buto, patung Budha.
  • Bali: Garuda.
  • Irian Jaya: Asmat.

Pakaian

  • Jawa: Batik.
  • Sumatra Utara: Ulos, Suri-suri, Gotong.
  • Sumatra Utara, Sibolga: Anak Daro & Marapule.
  • Sumatra Barat/ Melayu:
  • Sumatra Selatan Songket
  • Lampung: Tapis
  • Sasiringan
  • Tenun Ikat Nusa Tenggara Timur
  • Bugis - MakassarBaju Bodo dan Jas Tutup, Baju La'bu
  • Papua Timur : Manawou
  • Papua Barat : Ewer
  • NTT:

Suara

  • Jawa: Sinden.
  • Sumatra: Tukang cerita.
  • Talibun: (Sibolga, Sumatera Utara)
  • Gorontalo: (Dikili)

Sastra/tulisan

  • Jawa: Babad Tanah Jawa, karya-karya Ronggowarsito.
  • Bali: karya tulis di atas Lontar.
  • Sumatra bagian timur (Melayu): Hang Tuah
  • Sulawesi Selatan Naskah Tua Lontara
  • Timor Ai Babelen, Ai Kanoik

Makanan

  • Timor: Jagung Bose, Daging Se'i, Ubi Tumis.
  • Sumatera bagian Barat: Sate Padang
  • Sumatera bagian Selatan: Pempek Palembang
  • Jakarta: Soto Betawi
  • Jogjakarta: Gudeg
  • Jawa Timur: Rawon
  • Gorontalo: Binde Biluhuta
  • Sulawesi Utara: Bubur Manado(Tinutuan)
  • Sulawesi Selatan: Coto Makassar, Pallubasa, Es pisang hijau

Monday, December 13, 2010

RUMAH ADAT | RUMAH ADAT JAWA | RUMAH JOGLO

RUMAH ADAT | RUMAH ADAT JAWA | RUMAH JOGLO

Rumah joglo merupakan bangunan arsitektur tradisional jawa tengah, rumah joglo mempunyai kerangka bangunan utama yang terdiri dari soko guru berupa empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang berupa susunan balok yang disangga soko guru.

Susunan ruangan pada rumah joglo umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruangan pertemuan yang disebut pendhapa, ruang tengah atau ruang  pringgitan, dan ruang belakang yang disebut dalem atau  ruang keluarga.

Rumah Adat Jawa
Tipologi rumah atau tempat tinggal yang sering disebut “omah”, yang dimaksudkan adalah tempat bernaung bagi masyarakat di pulau jawa. Kehidupan orang jawa mencakup 3 syarat ungkapan pengertian hidup yaitu guna mencukupi kebutuhan sandang (pakaian yang wajar), Pangan ( minum dan makan ) dan Papan ( tempat tinggal ). Untuk syarat yang ketiga yaitu kebutuhan akan rumah tinggal haruslah terpenuhi, karena hal tersebut sebagai syarat untuk memenuhi kehidupan yang sejahtera, sebab jikalau sudah memiliki rumah tinggal sendiri maka mereka tidak akan menyewa tempat bernaung atau sering disebut “ngindhung”. Bentukan sederhana adalah ungkapan kehidupan sederhana masyarakat jawa. Hal tersebut dapat terlihat dari penggambaran bentuk denah yang cukup sederhana. Biasanya bentuk denah yang diterapkan berbentuk persegi yaitu bujur sangkar dan persegi panjang. Hal tersebut sesuai dengan estetika hidup orang jawa yang mempunyai ketegasan prinsip dalam menjalankan tanggung jawab terhadap hidupnya. Sedangkan tipologi bentuk denah oval atau bulat tidak terdapat pada bentuk denah rumah tinggal orang jawa. Bentuk persegi empat ini dalam perkembangannya mengalami perubahan dengan penambahan-penambahan ruang pada sisi-sisi bagian bangunannya, tetapi tetap merupakan kesatuan bentuk dari denah persegi empat.
Berdasarkan pada sejarah pembelajaran perkembangan bentuk rumah tinggal orang jawa, dapat dikategorikaan menjadi 4 macam bentukan yang mendasari sebagai bentuk rumah tinggal. Yaitu Rumah tradisional bentuk “Panggangpe”, bentuk “Kampung”, bentuk “Limasan” dan bentuk “Joglo”. Rumah tradisional bentuk “Tajug” tidak dipakai sebagai rumah tinggal, melainkan dipakai sebagai rumah ibadah. Sebenarnya kategori bentuk di atas di pisahkan berdasarkan bentukan atap yang berbeda-beda.





Sunday, December 12, 2010

TEMBANG MACAPAT | SASTRA JAWA | JAWA KUNO

TEMBANG MACAPAT | SASTRA JAWA | JAWA KUNO

Tembang Macapat adalah jenis metrum dalam tembang Jawa. Jenis dan sifatnya adalah sebagai berikut:







  • Mijil
Mijil berarti keluar atau lahir dari gua garba, rahim ibu. Juga berarti lahirnya gagasan, penemu atau uneg-uneg. Bayi yang baru saja mbabar lahir itu keadaannya masih suci, tanpa dosa ibarat kertas masih bersih, hitam putihnya tergantung pada penulisnya. Sifatnya: gandrung-gandrung, prihatin, dan serius. Gunanya: mengungkapkan rasa prihatin, mengungkapkan petuah yang cukup berbobot nilainya.
  • Sinom
Sinom berarti muda, suatu masa untuk meniti cita-cita. Senyampang masih muda, ilmu pengetahuan harus dicari sebagai persiapan masa dewasa nanti. Sifatnya: sederhana, susah, dan gigih. Gunanya: untuk nasihat, mengungkapkan rasa susah, namun tetap optimis terhadap masa depan.
  • Maskumambang
Pemuda yang penuh perjuangan sehingga tampak tampan seperti mas mengapung. Masa muda merupakan jembatan emas asal dimanfaatkan sebaik-baiknya. Pemuda yang rajin dan pandai akan menyenangkan orang tua, guru, dan masyarakatnya. Sifatnya: susah, merana, prihatin, dan nelangsa. Gunanya: mengungkapkan rasa susah, namun tetap optimis terhadap masa depan.
  • Asmarandana
Cinta yang disalurkan sesuai dengan moral agama dan sosial itu problem solving. bahkan mewangi ke kanan dan ke kiri bagi lingkungannya. Asmara yang diatur dengan baik akan membuahkan keselamatan, kehormatan, kemuliaan, dan kebahagiaan. Sifatnya: Sengsem, susah, prihatin, dan cengeng. Gunanya: mengungkapkan rasa susah karena cinta.
  • Dhandhanggula
Rasa optimis terhadap masa depan yang lebih manis, cerah, dan gemilang, karena agenda hidup yang jelas dan tertata rapi, lumampah anut wirama, berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Sifatnya: luwes, manis, serba cocok untuk suasana apa saja. Gunanya: untuk nasehat, mengungkapkan rasa sedih, buat permulaan gendhing.
  • Durma
Hidup harus berani menghadapi tantangan yang datangnya silih berganti. Hambatan, gangguan, dan cobaan hidup adalah suatu yang biasa dalam perjuangan, sehingga tidak diperkenankan putus asa. Sifatnya: tegang, marah, dendam. Gunanya: untuk peringatan, peperangan, menantang.
  • Pangkur
Kemewahan dunia fana yang penuh jebakan ini sebaiknya dihindari, sehingga mampu hidup sakmadya. Gaya hidup yang bermewah-mewahan akan membuat hati kurang peka dan cepat lupa diri. Sifatnya: tegang dan serius. Gunanya: untuk memberi peringatan agar tidak melupakan masa lalu.
  • Gambuh
Ilmu sangkan paraning dumadi harus diketahui. Sebagai orang yang beriman, harus mempelajari pengetahuan dan meyakini adanya kehidupan di alam akhirat. Di sini peranan ilmu agama sangat penting. Sifatnya: menerangkan, menjelaskan. Gunanya: untuk mengajar dengan keterangan yang mudah.
  • Pocung
Ilmu harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga membuahkan kesejahteraan bagi diri sendiri dan lingkungannya. Sifatnya: mempunyai mana seenaknya, bersenda gurau. Gunanya: untuk berkelakar, teka-teki lucu, petuah agar senantiasa selalu ingat hari akhir.
  • Megatruh
Tingkatan makrifat yang sudah ikhlas lahir bathin, mati sajroning ngaurip, mencapai akhir hidup yang khusnul khotimah atau emate pati-patitis. Sifatnya: susah, menyesal sekali. Gunanya: untuk mengungkapkan rasa susah karena jiwa dan raga akan berpisah.
  • Kinanthi
Di akhirat iman ilmu amal itulah bekalnya, sehingga seseorang akan memperoleh pahala di akhirat kelak yang berupa surga. Sifatnya: mengandung makna pengharapan gandrung. Gunanya: mengungkapkan rasa susah dan menuntun ke arah kebaikan.

Sumber: Ensiklopedia Kebudayaan Jawa: Dr. Purwadi, M.Hum.