Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
Showing posts with label Profile. Show all posts
Showing posts with label Profile. Show all posts

Saturday, January 14, 2012

SEBASTIAN GUNAWAN raih Gold Award Desain Terbaik Indonesia 2011

Aqua Reflections rancangan desainer terkemuka Sebastian Gunawan untuk Danone Aqua memperoleh penghargaan Gold Award Desain Terbaik Indonesia 2011.

Brand Director Aqua Febby Intan seusai acara penganugerahan penghargaan yang diserahkan oleh Presiden SBY di Istana mengatakan penghargaan ini untuk yang kedua kalinya.

"Tahun lalu kami mendapat penghargaan untuk inovasi tutup gallon two colours-jug cap with hologram plastic seal dan kali ini untuk kemasan Aqua dengan desain istimewa yang diberi nama Aqua Reflections," kata Febby, Kamis 5 Januari.

Penghargaan mendorong pihaknya untuk terus melakukan inovasi dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia.

Produk yang diposisikan sebagai produk premium itu, ujarnya, untuk memasuki pangsa pasar premium.

Hadir dalam kemasan botol unik yang merefleksikan gaya hidup dan bisa diperoleh di sejumlah gerai kelas atas dengan harga Rp25.000-Rp30.000 per botol.

"Kami akan fokus menggarap dulu sektor hotel, restoran, dan kafe dan siap membidik pasar internasional seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang," tuturnya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan penghargaan Indonesia Good Design Selection (IGDS) 2011 secara resmi diserahkan hari ini di Istana Negara.

“Penerima penghargaan industri ini antara lain adalah mereka yang telah menemukan desain produk industri yang inovatif. Penilaian secara objektif telah dilakukan oleh Tim Juri Desain Terbaik Indonesia yang ahli di bidangnya,” kata MS Hidayat, Menteri Perindustrian, Kamis 5 Januari.

Menurut dia penghargaan tersebut diberikan oleh Pemerintah kepada perusahaan maupun desainer yang telah melakukan upaya luar biasa dalam menghasilkan desain produk yang baik, sesuai dengan performa desain dan memenuhi kriteria good design.

MS Hidayat mengatakan setiap tahunnya sejak 2001 Pemerintah menyerahkan penghargaan tertinggi dalam bidang industri kepada perorangan dan perusahaan.

Tuesday, November 9, 2010

Sosok Petruk

Petruk dalam dunia wayang

Petruk adalah tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa, di pihak keturunan/trah Witaradya. Petruk tidak disebutkan dalam kitab Mahabarata. Jadi jelas bahwa kehadirannya dalam dunia pewayangan merupakan gubahan asli Jawa. Di ranah Pasundan, Petruk lebih dikenal dengan nama Dawala atau Udel.

Kisah

Masa lalu

Menurut pedalangan, ia adalah anak pendeta raksasa di pertapaan dan bertempat di dalam laut bernama Begawan Salantara. Sebelumnya ia bernama Bambang Pecruk Panyukilan. Ia gemar bersenda gurau, baik dengan ucapan maupun tingkah laku dan senang berkelahi. Ia seorang yang pilih tanding/sakti di tempat kediamannya dan daerah sekitarnya. Oleh karena itu ia ingin berkelana guna menguji kekuatan dan kesaktiannya.

Di tengah jalan ia bertemu dengan Bambang Sukodadi dari pertapaan Bluluktiba yang pergi dari padepokannya di atas bukit, untuk mencoba kekebalannya. Karena mempunyai maksud yang sama, maka terjadilah perang tanding. Mereka berkelahi sangat lama, saling menghantam, bergumul, tarik-menarik, tendang-menendang, injak-menginjak, hingga tubuhnya menjadi cacat dan berubah sama sekali dari wujud aslinya yang tampan. Perkelahian ini kemudian dipisahkan oleh Smarasanta (Semar) dan Bagong yang mengiringi Batara Ismaya. Mereka diberi petuah dan nasihat sehingga akhirnya keduanya menyerahkan diri dan berguru kepada Smara/Semar dan mengabdi kepada Sanghyang Ismaya. Demikianlah peristiwa tersebut diceritakan dalam lakon Batara Ismaya Krama.

Karena perubahan wujud tersebut masing-masing kemudian berganti nama. Bambang Pecruk Panyukilan menjadi Petruk, sedangkan Bambang Sukodadi menjadi Gareng.

Istri dan keturunan

Petruk mempuyai istri bernama Dewi Ambarwati, putri Prabu Ambarsraya, raja Negara Pandansurat yang didapatnya melalui perang tanding. Para pelamarnya antara lain: Kalagumarang dan Prabu Kalawahana raja raksasa di Guwaseluman. Petruk harus menghadapi mereka dengan perang tanding dan akhirnya ia dapat mengalahkan mereka dan keluar sebagai pemenang. Dewi Ambarwati kemudian diboyong ke Girisarangan dan Resi Pariknan yang memangku perkawinannya. Dalam perkawinan ini mereka mempunyai anak lelaki dan diberi nama Lengkungkusuma.

Petruk dalam lakon pewayangan

Oleh karena Petruk merupakan tokoh pelawak/dagelan (Jawa), kemudian oleh seorang dalang digubah suatu lakon khusus yang penuh dengan lelucon-lelucon dan kemudian diikuti dalang-dalang lainnya, sehingga terdapat banyak sekali lakon-lakon yang menceritakan kisah-kisah Petruk yang menggelikan, contohnya lakon Petruk Ilang Pethele menceritakan pada waktu Petruk kehilangan kapak/pethel-nya.

Dalam kisah Ambangan Candi Spataharga/Saptaraga, Dewi Mustakaweni, putri dari negara Imantaka, berhasil mencuri pusaka Jamus Kalimasada dengan jalan menyamar sebagai kerabat Pandawa (Gatutkaca), sehingga dengan mudah ia dapat membawa lari pusaka tersebut. Kalimasada kemudian menjadi rebutan antara kedua negara itu. Di dalam kekeruhan dan kekacauan yang timbul tersebut, Petruk mengambil kesempatan menyembunyikan Kalimasada, sehingga karena kekuatan dan pengaruhnya yang ampuh, Petruk dapat menjadi raja menduduki singgasana kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh (Wel Edel Bey). Lakon ini terkenal dengan judul Petruk Dadi Ratu. Prabu Welgeduwelbeh/Petruk dengan kesaktiannya dapat membuka rahasia Prabu Pandupragola, raja negara Tracanggribig, yang tidak lain adalah kakaknya sendiri, yaitu Nala Gareng. Dan sebaliknya Bagong-lah yang menurunkan Prabu Welgeduwelbeh dari tahta kerajaan Lojitengara dan badar/terbongkar rahasianya menjadi Petruk kembali. Kalimasada kemudian dikembalikan kepada pemilik aslinya, Prabu Puntadewa.

Hubungan dengan punakawan lainnya

Petruk dan panakawan yang lain (Semar, Gareng dan Bagong) selalu hidup di dalam suasana kerukunan sebagai satu keluarga. Bila tidak ada kepentingan yang istimewa, mereka tidak pernah berpisah satu sama lain. Mengenai Punakawan, punakawan berarti ”kawan yang menyaksikan” atau pengiring. Saksi dianggap sah, apabila terdiri dari dua orang, yang terbaik apabila saksi tersebut terdiri dari orang-orang yang bukan sekeluarga. Sebagai saksi seseorang harus dekat dan mengetahui sesuatu yang harus disaksikannya. Di dalam pedalangan, saksi atau punakawan itu memang hanya terdiri dari dua orang, yaitu Semar dan Bagong bagi trah Witaradya.

Sebelum Sanghyang Ismaya menjelma dalam diri cucunya yang bernama Smarasanta (Semar), kecuali Semar dengan Bagong yang tercipta dari bayangannya, mereka kemudian mendapatkan Gareng/Bambang Sukodadi dan Petruk/Bambang Panyukilan. Setelah Batara Ismaya menjelma kepada Janggan Smarasanta (menjadi Semar), maka Gareng dan Petruk tetap menggabungkan diri kepada Semar dan Bagong. Disinilah saat mulai adanya punakawan yang terdiri dari empat orang dan kemudian mendapat sebutan dengan nana ”parepat/prapat”.